Berbuat Baik tapi tidak Sempurna, Apakah Tetap Bernilai? Simak Penjelasan Berikut
Islam mengajarkan bahwa setiap usaha dan niat baik tetap bernilai di sisi Allah SWT. Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan akan mendapat balasan.
Wakil Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) MUI, Buya Dr Risman Muchtar, menekankan dalam menjalankan ibadah dan amal kebaikan, tidak selalu semua hal bisa dilakukan secara sempurna.
Buya Risman menjelaskan Islam mengajarkan bahwa sesuatu yang tidak bisa dilakukan sepenuhnya, tetap harus dikerjakan sebisanya.
Untuk memperkuat ibadah dan amal kebaikan, Buya Risman mengutip dengan kaidah fikih:
“ما لا يدرك كله لا يترك كله”
“Apa yang tidak bisa diperoleh seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya.”
Buya Risman menjelaskan bahwa kaidah ini mengajarkan agar seseorang tidak meninggalkan amal baik hanya karena merasa tidak bisa melakukannya dengan sempurna.
“Sering kali kita merasa ragu untuk berbuat baik karena takut tidak bisa maksimal. Padahal, sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan tetap bernilai di sisi Allah. Misalnya, jika belum bisa sedekah dalam jumlah besar, maka sedekah kecil pun tetap bernilai,” ujar Buya Risman dengan tegas.
Menurut Buya Risman, dalam Alquran dan hadits, Allah SWT dan Rasulullah SAW menekankan bahwa balasan kebaikan diberikan sesuai dengan usaha dan pengorbanan yang dilakukan.
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ
“Siapa yang melakukan kebaikan seberat biji zarrah, pasti dia akan melihat balasannya.” (QS Az-Zalzalah: 7).
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga usaha dan niat yang dilakukan seseorang.
Buya Risman menjelaskan umat Islam didorong untuk tetap berbuat baik meskipun dalam kapasitas yang terbatas.
“Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Lakukan sebisa mungkin, karena setiap kebaikan akan mendapat ganjaran dari Allah,” tutupnya.
Sumber: MUI Digital








