Kaltara Bidik Swasembada Telur, 100 Ribu Ayam Petelur Disiapkan
Tanjung Selor – Ketahanan pangan di Kalimantan Utara (Kaltara) tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi beras, tetapi juga penguatan sektor peternakan, khususnya telur ayam. Komoditas ini dinilai strategis karena menjadi salah satu sumber protein yang relatif terjangkau dengan kebutuhan masyarakat yang tinggi.
Dalam materi narasumber bertajuk “Kaltara Lumbung Pangan 2026–2030”, kebutuhan telur ayam di Kaltara diperkirakan mencapai sekitar 4,8 ton per hari, atau 144 ton per bulan dan 1.728 ton per tahun.
Di sisi lain, pengembangan produksi telur lokal dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Kaltara terhadap pasokan dari luar daerah.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah program 100.000 ayam petelur Kaltara yang dikembangkan secara bertahap melalui sejumlah sentra peternakan.
“Dengan skema 10 sentra yang masing-masing memiliki 10.000 ayam petelur, total populasi dapat mencapai 100.000 ekor. Dengan tingkat produktivitas sekitar 80–90 persen, produksi telur secara kasar dapat mencapai puluhan ribu hingga sekitar 90.000 butir per hari ketika produktivitas berada pada level 90 persen,” ungkap Ketua Komisi III DPRD Kaltara, Jufri Budiman, S.Pd, MM, Kamis (27/8/2026).
Pengembangan tersebut tidak cukup hanya dengan membangun kandang. Rantai produksi harus didukung ketersediaan bibit atau pullet, pakan, jagung lokal, vaksin, tenaga teknis, modal, gudang, distribusi hingga kepastian pasar.
Kata ketua Tani Merdeka Indonesia Kaltara ini, konsep yang ditawarkan juga mengintegrasikan peternakan ayam dengan sektor pertanian. Jagung lokal dapat menjadi bahan baku pakan, kemudian hasil produksi telur disalurkan melalui koperasi, distributor dan pasar.
Rantai tersebut digambarkan sebagai petani jagung → pengolahan pakan → peternak ayam petelur → telur Kaltara → koperasi/distributor → pasar → masyarakat. Dengan pola ini, belanja masyarakat untuk mendatangkan jagung, pakan maupun telur dari luar daerah diharapkan sebagian dapat berputar di dalam ekonomi Kaltara.
Selain program 100.000 ayam petelur, muncul pula gagasan “1 Desa 1 Sentra Telur” bagi desa yang memenuhi persyaratan. Model awal dapat diterapkan pada desa yang memiliki lahan, air, listrik, akses jalan, kelompok masyarakat yang siap serta akses pasar.
“Program tersebut disarankan dimulai melalui 3–5 desa sebagai pilot project, sebelum diperluas ke 10, 20 hingga 50 desa apabila menunjukkan hasil yang baik,” jelasnya.
Ketahanan pangan Kaltara sendiri memiliki sejumlah modal produksi. Pada 2025, luas panen padi diperkirakan mencapai 10.003 hektare, meningkat 20,77 persen dibandingkan 2024. Produksi gabah kering panen (GKP) mencapai sekitar 45.805 ton, sementara produksi beras untuk konsumsi penduduk diperkirakan 21.818 ton, naik 22,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, penguatan pangan masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain mahalnya distribusi antarkabupaten, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah, keterbatasan infrastruktur pertanian dan irigasi, akses petani terhadap pupuk, benih, teknologi dan pembiayaan, persoalan pascapanen, perubahan iklim serta tingginya biaya transportasi.
Karena itu, konsep “Kaltara Lumbung Pangan” diarahkan untuk membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir. Bukan hanya padi dan beras, tetapi juga jagung, peternakan, telur, perikanan, hortikultura, pengolahan, distribusi hingga pasar.
Target akhirnya bukan sekadar Kaltara mampu menghasilkan pangan, melainkan pangan tersebut diproduksi, diolah, diperdagangkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Kaltara sendiri. (jd)














