BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Terjadi Agustus
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia pada 2026 akan terjadi pada Agustus. Saat ini, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa awal kemarau berlangsung secara bertahap dan tidak serentak di seluruh wilayah Indonesia. “Mayoritas wilayah Indonesia puncak kemaraunya terjadi pada Agustus. Ada yang lebih awal di Juli, ada juga yang mundur ke September, tetapi sebagian besar berada di Agustus,” ujarnya dalam Podcast Temu Tamu BMKG, di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang terasa gerah saat ini merupakan bagian dari fase peralihan. Meski suhu meningkat, karakter utama kemarau tahun ini bukan pada panas ekstrem, melainkan tingkat kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan biasanya.
“Yang perlu diperhatikan adalah sifat kemaraunya yang lebih kering. Kenaikan suhu relatif masih dalam batas wajar, tidak ekstrem seperti di Eropa atau Asia Timur yang bisa mencapai di atas 45 derajat Celsius,” jelasnya.
Terkait isu gelombang panas atau heatwave, Ardhasena menyebut peluang terjadinya fenomena tersebut di Indonesia masih kecil. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi laut.
“Wilayah dengan gelombang panas ekstrem biasanya memiliki daratan luas seperti di Australia, Asia Timur, atau Afrika Utara. Di Indonesia, pergerakan udara cenderung naik sehingga sulit terjadi penumpukan panas ekstrem,” katanya.
Ia menambahkan, sistem sirkulasi atmosfer di wilayah Indonesia turut berperan menjaga kondisi tersebut. Pergerakan udara yang dominan naik membuat pembentukan gelombang panas menjadi tidak signifikan.
Namun demikian, BMKG mengingatkan adanya potensi pengaruh fenomena El Nino pada musim kemarau tahun ini. El Nino merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang terjadi secara periodik setiap 3 hingga 7 tahun. “Tren kemunculan El Nino tahun ini cukup signifikan. Fenomena ini terjadi akibat perpindahan pusat panas laut dari Pasifik Barat ke Pasifik Tengah dan Timur,” jelasnya.
Perubahan tersebut menyebabkan pusat pembentukan awan dan hujan ikut bergeser ke wilayah Pasifik Tengah hingga Amerika Latin. Akibatnya, Indonesia mengalami penurunan curah hujan karena dominasi pergerakan udara turun. “Ketika awan dan hujan bergeser ke Pasifik Tengah, wilayah Indonesia justru mengalami penurunan hujan. Inilah yang memperkuat kondisi kemarau menjadi lebih kering,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa El Nino bukan sekadar fenomena laut, tetapi juga melibatkan interaksi dengan atmosfer dalam skala global. “Ini fenomena yang ter-couple antara laut dan atmosfer, dengan skala ribuan kilometer dan berdampak ke banyak wilayah dunia,” tambahnya.
Dampak El Nino pun tidak seragam di setiap negara. Di Indonesia dan Australia, fenomena ini cenderung menyebabkan kondisi lebih kering, sementara di wilayah Amerika Latin justru meningkatkan curah hujan.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan sejak dini, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan sektor pertanian.
BMKG juga mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi resmi terkait cuaca dan iklim guna mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi. “Dengan memahami informasi iklim secara tepat, kita bisa lebih siap menghadapi kemarau tahun ini,” pungkasnya.
Sumber: infopublik.id













