Ekonom: Rupiah Tertekan di Tengah Ketidakpastian Global, Respons BI dan APBN Jadi Kunci
Jakarta – Keputusan Federal Reserve menahan suku bunga acuan menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Sikap hati-hati yang ditunjukkan Ketua The Fed, Jerome Powell, menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko eksternal belum sepenuhnya mereda.
Bagi Indonesia, dinamika tersebut tidak hanya berdampak pada arus modal global, tetapi juga pada stabilitas nilai tukar dan ekspektasi pasar domestik.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai arah kebijakan global berpotensi bergeser menjadi lebih reaktif terhadap data aktual, dibandingkan berbasis proyeksi jangka panjang (forward guidance).
“Jika kebijakan global menjadi lebih reaktif terhadap realisasi inflasi dan risiko aktual, maka volatilitas akan menjadi the new normal. Negara seperti Indonesia harus semakin sigap menjaga stabilitas,” ujar Fakhrul, dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Dalam konteks domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai tengah berada dalam fase overshooting, yakni pergerakan yang melampaui fundamental jangka pendek dan sedang mencari titik keseimbangan baru.
Menurut Fakhrul, kondisi tersebut membutuhkan sinyal kuat dari otoritas moneter. Ia menilai Bank Indonesia perlu menunjukkan kecenderungan pengetatan (tightening bias) untuk menjaga kredibilitas kebijakan sekaligus meredam tekanan eksternal.
“Respons yang lebih tegas penting, bukan untuk mengikuti The Fed, tetapi untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas domestik,” jelasnya.
Di sisi fiskal, kepastian arah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi perhatian. Penyesuaian terhadap program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), dinilai sebagai langkah adaptif pemerintah dalam merespons dinamika global.
Langkah rasionalisasi belanja tersebut menunjukkan fleksibilitas kebijakan fiskal tanpa mengorbankan disiplin anggaran. Dalam situasi global yang penuh tekanan, kredibilitas APBN menjadi jangkar utama kepercayaan investor.
“Pasar membutuhkan kepastian bahwa pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan kebijakan, namun tetap menjaga disiplin fiskal,” ujar Fakhrul.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi kebijakan yang konsisten dan terukur, agar pelaku pasar dan masyarakat memahami bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat di tengah volatilitas global.
Ke depan, sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal dinilai semakin krusial. Tidak hanya ketepatan kebijakan, tetapi juga kredibilitas implementasi menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Dalam lanskap global yang terus berubah, kemampuan beradaptasi menjadi kunci. Ketegasan dan kehati-hatian pengambil kebijakan diharapkan mampu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Sumber: infopublik.id













