Uang Panai Pernikahan Dua Dokter Spesialis di Tarakan Ini Tembus Rp 2,2 Miliar
Tarakan, jelajahdaerah.com – Suasana hangat dan penuh kebahagiaan menyelimuti pertemuan dua keluarga besar dr. Vebriadam Syahputra Tauviq dan dr. Nurul Magfirah, Sabtu, 12 September 2026. Pertemuan tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian menuju hari pernikahan keduanya.
Di tengah suasana penuh doa dan harapan itu, terselip sebuah pemberian istimewa dari keluarga mempelai laki-laki. Bukan hanya uang panai’ atau uang jujuran, keluarga juga menyiapkan sebuah rumah di Makassar untuk ditempati kedua calon mempelai.
Jika ditotal, nilai pemberian tersebut mencapai Rp2,2 miliar. Rinciannya, uang jujuran sebesar Rp600 juta dan sebuah rumah dengan nilai sekitar Rp1,6 miliar.
Kakek mempelai laki-laki, Iskandar, mengatakan pertemuan keluarga tersebut menjadi bagian dari langkah mengantarkan cucunya menuju kehidupan baru bersama dr. Nurul Magfirah.
“Alhamdulillah, pada hari ini kita mengantar cucu kami untuk menyerahkan uang jujuran,” ungkap Iskandar, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, keluarga pihak laki-laki telah menyiapkan uang jujuran sekitar Rp600 juta. Selain itu, orang tua dr. Vebriadam memberikan rumah sebagai hadiah bagi putra dan calon menantunya.
“Jujurannya itu sekitar Rp600 juta, ditambah dengan hadiah rumah dari orang tua laki-laki,” jelasnya.
Dengan demikian, total pemberian yang menyertai rangkaian tersebut mencapai Rp2,2 miliar. Sebanyak Rp600 juta diberikan dalam bentuk uang tunai, sedangkan rumah di Makassar memiliki nilai sekitar Rp1,6 miliar.
“Totalnya Rp2,2 miliar semua. Uang tunainya Rp600 juta, rumahnya Rp1,6 miliar,” beber Iskandar.
Namun, bagi keluarga, angka tersebut bukanlah semata-mata soal nominal. Besaran uang panai’ merupakan hasil kesepakatan antara kedua keluarga, tanpa harus dikaitkan dengan filosofi angka tertentu.
“Sebenarnya tidak ada filosofinya. Istilahnya pertemuan antara keluarga perempuan dengan laki-laki, kita sepakati,” terangnya.
Iskandar juga menegaskan bahwa rumah senilai Rp1,6 miliar tersebut bukan bagian dari uang panai’. Rumah itu merupakan hadiah tersendiri dari orang tua mempelai laki-laki kepada anak dan calon menantunya.
“Rumah itu hadiah dari orang tua laki-laki ke anak,” tukasnya.
Perwakilan keluarga mempelai laki-laki, Muhammad Astra, turut menyebut pemberian tersebut sebagai bentuk dukungan keluarga yang cukup besar bagi perjalanan hidup kedua calon mempelai.
“Kalau saya pribadi, ini luar biasa ya. Dengan jumlah segitu, Rp600 juta tambah rumah, itu sudah luar biasa,” ujarnya.
Rumah tersebut diberikan oleh ayah dr. Vebriadam untuk ditempati keduanya di Makassar. Kota itu bukan tempat yang asing bagi pasangan tersebut karena menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan mereka.
dr. Vebriadam dan dr. Nurul diketahui telah saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah. Keduanya merupakan teman satu angkatan di SMAN 1 Tarakan sebelum kembali dipertemukan dalam perjalanan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
“Mereka teman SMA, kemudian kuliah sama-sama di Makassar,” terang Astra.

Makassar bahkan berpeluang kembali menjadi bagian dari perjalanan hidup keduanya setelah menikah. Keduanya disebut memiliki kemungkinan melanjutkan pendidikan dokter spesialis di kota tersebut.
“Kalau ambil spesialis di Makassar mungkin bisa tinggal di sana,” katanya.
Dalam adat perkawinan Bugis-Makassar, uang panai’ sendiri memiliki kedudukan yang berbeda dengan mahar. Mahar menjadi hak mempelai perempuan yang diserahkan dalam prosesi akad, sementara uang panai’ merupakan bagian dari kesepakatan keluarga dalam rangkaian pernikahan.
“Kalau saat akad itu ada mahar, sedangkan uang panai’ berbeda. Itu tersendiri,” sebut Astra.
Karena itu, besaran uang panai’ tidak pernah memiliki ukuran yang seragam. Setiap keluarga memiliki pertimbangan dan kesepakatan masing-masing dalam menentukan nilainya.
“Tergantung keluarga ya. Tiap-tiap keluarga kan beda-beda ukurannya,” lanjutnya.
Di balik angka Rp2,2 miliar, keluarga justru menaruh harapan yang jauh lebih besar: kehidupan rumah tangga yang penuh keberkahan. Sebab, pemberian dalam sebuah pernikahan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang diserahkan, tetapi juga tentang doa yang menyertainya.
“Harapan kami agar nanti mereka diberi keberkahan dalam menjalani rumah tangga. Semoga niat baik ibadah ini diberi kelancaran,” harap Astra.
Ia menyadari bahwa perjalanan kehidupan setelah pernikahan tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, keluarga hanya bisa memberikan bekal terbaik berupa dukungan, kasih sayang, dan doa untuk keduanya.
“Yang jelas setiap keluarga punya harapan, mudah-mudahan perjalanan kehidupan mereka ke depan baik. Sakinah, mawaddah, wa rahmah,” tandasnya.
Bagi dr. Vebriadam dan dr. Nurul, rumah di Makassar mungkin kelak menjadi tempat mereka membangun kehidupan bersama. Sementara bagi kedua keluarga, Rp600 juta uang jujuran dan rumah senilai Rp1,6 miliar bukan sekadar pemberian bernilai fantastis, melainkan simbol kasih orang tua dan keluarga yang mengiringi langkah dua dokter menuju babak baru kehidupan. (**)


















