Destry Jadi Calon Tunggal, Pasar Membaca Arah Baru BI
Jakarta — Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai langsung memberi sinyal positif bagi pasar keuangan. Sosok yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior BI tersebut dipandang memberikan kepastian sekaligus menjaga kesinambungan arah kebijakan moneter.
Pasar keuangan disebut sangat sensitif terhadap kepastian arah kebijakan moneter. Karena itu, penunjukan figur yang telah familiar dengan dinamika internal BI dinilai mampu meredam spekulasi dan kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan secara mendadak.
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara sekaligus Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI, Dr. Ana Sriekaningsih, menilai pencalonan tersebut juga mengirimkan pesan mengenai semakin eratnya harmonisasi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal.
Respons pasar tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah yang bergerak ke kisaran Rp17.740 per dolar AS setelah pengumuman pencalonan. Penguatan tersebut dipengaruhi sentimen domestik serta faktor eksternal, termasuk pergerakan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi global.
Namun, penguatan rupiah akibat sentimen terhadap figur calon pimpinan BI dinilai belum cukup menjadi jaminan stabilitas jangka panjang. Stabilitas nilai tukar tetap bergantung pada kredibilitas dan independensi institusional Bank Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Ke depan, kepemimpinan baru BI menghadapi sedikitnya dua tantangan strategis, yakni menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan kebijakan moneter dapat ditransmisikan secara efektif ke sektor riil.
Instrumen seperti intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pendalaman pasar melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi bagian dari upaya menghadapi gejolak eksternal. Di sisi lain, kelonggaran likuiditas juga dituntut benar-benar mendorong penyaluran kredit perbankan dan pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Dengan demikian, kesinambungan kebijakan menjadi modal awal bagi stabilitas ekonomi. Tantangan berikutnya adalah membuktikan konsistensi eksekusi kebijakan agar stabilitas nilai tukar tidak berhenti sebagai sentimen pasar, tetapi menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi nasional yang tangguh dan inklusif. (jd)











