Bahaya Rokok Tembakau dan Elektrik bagi Kesehatan, Ikuti Tips Setop Merokok Ini
Bulungan – Dokter Spesialis Paru, dr. Fadlun, Sp.P menegaskan rokok membawa ribuan zat berbahaya ke dalam tubuh. Sebagian di antaranya bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker. Dalam rokok terkandung tujuh ribu jenis zat-zat karsinogen dan tujuh puluh di antaranya sangat berbahaya.
Paru-paru menjadi salah satu organ yang paling terdampak. Kebiasaan merokok dapat berkaitan dengan berbagai penyakit seperti kanker paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga memperburuk kondisi penderita asma.
“Masalah paru yang ditimbulkan sangat banyak, mau itu kanker paru, PPOK, orang yang sakit asma, semua itu berdampak,” ungkap Fadlun, Kamis (13/8), dikutip dari media benuanta.co.id.
Bahaya rokok tidak berhenti di paru-paru, dampaknya juga dapat menyerang organ tubuh lainnya, termasuk jantung dan sistem reproduksi.
Ia mengingatkan, tidak munculnya keluhan bukan berarti tubuh terbebas dari dampak rokok. Penyakit akibat kebiasaan merokok bisa saja belum menunjukkan gejala pada tahap awal.
“Merokok saja tidak sakit belum tentu. Kita tidak tahu kondisi parunya, mungkin saja belum bergejala pada saat itu,” ujarnya.
Asap rokok juga membawa persoalan bagi orang yang tidak merokok. Mereka yang berada di sekitar perokok dapat ikut menghirup asap dan menjadi perokok pasif.
Fadlun mengatakan, perokok yang merokok di dalam rumah dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi anggota keluarga. Bahkan, ia mengingatkan sisa zat rokok yang menempel pada pakaian juga perlu diperhatikan.
“Kalau merokok di dalam rumah pasti sudah tahu, asap perokok akan menyebabkan gangguan sistem pernapasan untuk keluarga yang ada dalam rumah,” katanya.
Perokok yang baru pulang dari luar rumah disarankan membersihkan diri dan mengganti pakaian sebelum berinteraksi dengan keluarga.
“Masuk rumah langsung cuci bajunya, langsung mandi, cuci baju, baru kontak dengan keluarga atau orang-orang yang ada di dalam rumah,” ujarnya.
Menurutnya, langkah itu hanya bentuk pencegahan untuk mengurangi paparan. Pilihan terbaik tetap berhenti merokok.
“Intinya sebenarnya jangan merokok, baik di luar rumah atau di dalam rumah. Berhenti merokok. Kalau memang sayang sama keluarga, intinya kan seperti itu,” tegasnya.
Fadlun mengatakan, anggapan rokok elektrik aman karena tidak menggunakan tembakau seperti rokok biasa perlu diluruskan.
“Kalau yang elektrik tidak berbahaya karena tidak ada daun-daunnya, itu tidak begitu,” katanya.
Rokok elektrik tetap dapat mengandung nikotin dan berbagai zat kimia. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menganggap vape sebagai rokok yang bebas risiko.
“Yang pertama kan nikotin, nikotin juga ada di rokok elektrik, tar juga ada di rokok elektrik. Zat-zat kimianya juga ada,” jelasnya.
Artinya, mengganti rokok biasa dengan rokok elektrik bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari bahaya rokok. Keduanya tetap memiliki risiko kepada kesehatan.
Bagi perokok yang sudah kecanduan, berhenti bukan perkara mudah. Ada proses yang harus dilalui dan kemauan yang kuat dari diri sendiri.
Berhenti merokok bisa dilakukan secara bertahap dengan mengurangi jumlah rokok dan mengatur waktu merokok.
“Untuk terapi berhenti merokok ini ada yang farmakologi, ada yang nonfarmakologi. Nonfarmakologi tadi itu ada keinginan, kemauan untuk berhenti merokok,” jelasnya.
Jumlah rokok kemudian dapat dikurangi sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak lagi merokok.
Namun, tantangan tidak hanya berasal dari rasa ingin merokok. Lingkungan pergaulan juga dapat membuat seseorang kembali kepada kebiasaan lama.
“Kalau cuma satu minggu tidak merokok belum tentu. Nanti kumpul lagi sama temannya yang merokok, balik lagi. Lingkungan juga kan berpengaruh,” tuturnya. (jd)
















