Jelajah Daerah
Beranda Ekonomi 60 Ahli Waris di Tarakan Ikuti Program PEKA, Selain Pelatihan Keterampilan Peserta juga dapat Literasi Keuangan

60 Ahli Waris di Tarakan Ikuti Program PEKA, Selain Pelatihan Keterampilan Peserta juga dapat Literasi Keuangan

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Kalimantan, Faizal Rachman, Kepala BPJS Cabang Tarakan, Masbuki mendampingi Walikota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes meninjau stand produk UMKM dalam acara launching program Pemberdayaan Ekonomi dan Keterampilan (PEKA) di Kota Tarakan, acara ini dilakukan secara serentak se Indonesia yang berpusat di Bandung, Jawa Barat. (Foto: jelajahdaerah.com)

Tarakan, jelajahdaerah.com – BPJS Ketenagakerjaan secara serentak meluncurkan program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA) kepada seluruh ahli waris peserta penerima manfaat, Selasa (18/8). Di Kota Tarakan, 60 orang penerima manfaat kepesertaan BPJS ketenagakerjaan mengikuti program PEKA.

Program PEKA bertujuan membantu ahli waris mengembangkan keterampilan, membangun usaha, sekaligus memastikan santunan yang diterima dapat menjadi sumber penghidupan berkelanjutan.

Dikonfirmasi, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Kalimantan, Faizal Rachman, 60 peserta di Tarakan merupakan penerima manfaat dari Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) maupun Jaminan Kematian (JKM) . Dari jumlah tersebut, 20 orang telah memiliki usaha, sedangkan 40 lainnya masih mengikuti proses pelatihan.

“Dari 60 ini, ada 20 yang sudah berusaha, sisanya ada 40 yang lagi mendapatkan pelatihan,” jelas Faizal.

Peserta yang belum memiliki usaha akan mendapatkan pelatihan sesuai keterampilan dan minat masing-masing. Materi yang diberikan mencakup berbagai keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi produk usaha.

“Ada yang mau bikin kue, silakan. Mau kerajinan tangan, silakan. Mau bikin singkong, silakan. Punya keterampilan itu nanti dilatih,” katanya.

Menurut Faizal, pelatihan keterampilan juga akan dibarengi literasi keuangan agar penerima manfaat mampu mengelola dana santunan secara tepat. Hal ini penting mengingat nilai manfaat yang diterima ahli waris cukup besar dan berpotensi habis jika digunakan secara konsumtif atau ditempatkan pada investasi ilegal.

“Bagaimana dana yang diterima bisa digunakan secara baik, nggak terjebak kalau mau berinvestasi, tidak berinvestasi di tempat yang salah,” jelasnya.

Faizal menyebut BPJS Ketenagakerjaan tidak dapat menjalankan program tersebut sendirian. Karena itu, pihaknya menggandeng Bank Indonesia, OJK, perbankan, Rumah BUMN, dinas ketenagakerjaan, dinas UMKM, dinas pariwisata hingga berbagai mitra lainnya.

“Ini nggak bisa sendiri, harus bersama sehingga sirkuler ekonominya,” tegasnya.

Dukungan juga diberikan setelah peserta menyelesaikan pelatihan. Produk yang dihasilkan akan dibantu untuk dipasarkan sehingga peserta tidak berhenti hanya pada tahap produksi. BPJS Ketenagakerjaan Tarakan bahkan akan menjadi salah satu konsumen awal produk peserta.

“Pertama kali konsumennya nanti kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan Tarakan yang akan beli produk Bapak-Ibu,” bebernya.

Produk peserta juga akan dipajang di kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan sebagai sarana promosi. Produk tersebut kemudian dapat dikenalkan kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan ketika terdapat kegiatan bersama.

“Semua kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan ada tempat untuk memajang produk-produk Ibu nantinya,” imbuhnya.

Faizal menegaskan jenis usaha yang dikembangkan peserta tidak ditentukan secara seragam karena harus menyesuaikan potensi masing-masing daerah. Di Tarakan, misalnya, terdapat peluang pengembangan produk lokal seperti bandeng asap dan sambal.

“Produknya muatan lokal, masing-masing daerah. Makanya kita berkolaborasi dengan daerah,” ujarnya.

Selain membantu produksi dan pemasaran, BPJS Ketenagakerjaan juga akan membantu peserta terhubung dengan mitra yang dapat mendukung legalitas produk, termasuk pengurusan izin dan sertifikasi halal.

“Kita akan bantu melihat produknya apa, nanti kita bantu untuk pelatihannya, kita komunikasikan dengan mitra-mitra yang mendukungnya,” tambahnya.

Faizal menjelaskan mekanisme kepesertaan PEKA akan ditawarkan kepada setiap penerima manfaat yang mengajukan klaim Jaminan Kecelakaan Kerja maupun Jaminan Kematian. BPJS Ketenagakerjaan akan mendata minat pelatihan peserta sebelum mengelompokkan mereka untuk mengikuti pelatihan.

“Setiap yang mengajukan klaim, baik itu klaim kecelakaan kerja maupun kematian, kita akan tanya apakah berminat untuk ikut pelatihan. Kita list dulu, setelah terkumpul berapa orang, kita akan panggil untuk melakukan pelatihan,” lanjutnya.

Besarnya manfaat yang telah disalurkan juga menjadi alasan pentingnya pemberdayaan dilakukan. Secara nasional, BPJS Ketenagakerjaan telah membayarkan klaim hampir Rp36 triliun. Di Tarakan, hingga semester pertama 2026 terdapat 4.150 klaim dengan nilai sekitar Rp49 miliar, sedangkan pada 2025 terdapat sekitar 6.000 klaim senilai hampir Rp89 miliar.

“Jangan sampai habis konsumtif, atau jangan sampai juga mau berinvestasi, investasi bodong nantinya,” tukasnya.

Sementara itu, Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan PEKA karena program tersebut dinilai mampu mendorong ahli waris agar tidak hanya menggunakan santunan untuk kebutuhan konsumtif. Menurutnya, pelatihan dan pengembangan produk dapat membantu keluarga penerima manfaat melanjutkan perekonomian.

“Ini adalah bagian untuk memandirikan para ahli waris. Para ahli waris dilatih, diberikan keterampilan untuk membuat produk-produk UMKM yang nantinya akan dijual supaya bisa melanjutkan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Khairul menilai program tersebut juga memiliki dampak terhadap penciptaan lapangan pekerjaan dan pengentasan kemiskinan. Karena itu, Pemkot Tarakan siap menghubungkan PEKA dengan berbagai program pemberdayaan ekonomi yang sudah berjalan di daerah.

“Saya kira ini program yang cukup bagus, ini adalah bagian salah satu untuk penciptaan lapangan pekerjaan, yang kedua untuk pengentasan kemiskinan,” katanya.

Menurut Khairul, kolaborasi dapat dilakukan melalui Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Pariwisata melalui sektor ekonomi kreatif, hingga Dekranasda, PKK, Dharma Wanita dan jaringan UP2K. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas ruang pengembangan dan pemasaran produk peserta PEKA.

“Saya kira banyak yang bisa dikolaborasi, bisa juga nanti dengan Dekranasda Kota, bisa dengan PKK, bisa dengan Dharma Wanita, banyak lah yang bisa dikolaborasi termasuk nanti jaringan-jaringan kita yang di bawahnya ada UP2K dan lain-lain,” pungkasnya. (jd)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan